Yayasan Pendidikan Islam

MA'AHID

Kabar Ma'ahid

REFERENDUM

"Kalian tahu, selama ini mereka hanya memanfaatkan kita. Mereka mengambil sumber daya alam kita tanpa merasa perlu meningkatkan kualitas hidup kita." Kata Deva berapi-api.

"Kau mau kita terus-terusan seperti ini? Seharusnya kita kaya, Mar!" Deva menatapku tajam.

"Tapi ada cara lain, kan?"

"Dengan cara apa? Bicara baik-baik? Bah!" Deva mencibir. Mukanya merah padam.

Aku hanya terdiam, tak bisa berkata-kata.

Deva berdiri di depanku sambil berkacak pinggang. Napasnya tak teratur. Rambutnya tampak acak-acakan. Mukanya kusut.

Umair yang duduk di sampingku dari tadi hanya diam. Ia menatap lantai dengan pandangan kosong. Ujung-ujung jarinya dimainkan, saling bertaut.

Aku menatap langit-langit kelas. Kami terdiam sempurna.

Kulirik kembali Deva yang berjalan keluar, lalu menutup pintu keras-keras. Berdebam. Baru kali ini rasanya dia semarah itu.

Aku menghela napas panjang.

Wacana tentang referendum menjadi bahan perbincangan yang hangat satu bulan terakhir. Memilih tetap menjadi bagian negara ini, atau berlepas diri dan membentuk negara baru.

Yeah, aku paham. Selama ini masyarakat merasakan banyak ketidakadilan yang terjadi. Janji-janji palsu para pemegang kekuasaan. Belum lagi ada kebijakan baru yang terasa merugikan. Maka ketika kata 'referendum' menggema ke seluruh jengkal tanah di wilayah kami, kata merdeka terpekik lantang, terdengar bersahutan.

Entahlah. Aku sanksi kalau yang menginginkan merdeka murni penduduk setempat. Bukannya apa, tapi aku paham, ada oknum-oknum tertentu yang memang menginginkan negeri ini terpecah belah. Mereka menawarkan solusi sampah yang dibungkus indah. Dikemas dengan apik agar terdengar semakin menarik.

Kuhembuskan napas kuat-kuat.

***

Satu dua tetes hujan mulai berjatuhan. Aku mempercepat langkah, sebelum hujan terlanjur menderas. Benarlah, tepat tiga menit, setelah aku sampai di halte, ribuan tetesnya luruh serentak. Membuat jalan yang tadinya kering berangsur membasah.

Beberapa pengendara motor menepi, mencari tempat bernaung. Beberapa lagi cuek tetap melaju, berkendara dibawah tetes hujan. Halte terlihat sesak. Bukan karena banyak yang hendak menumpang bus. Tapi banyak yang hanya berteduh dari hujan.

Aku menengok ujung kelokan jalan. Bus yang kutunggu belum juga muncul. Mungkin sebentar lagi. Kataku dalam harap.

Hari ini aku berangkat sendiri. Umair sudah berangkat lebih dulu, ada yang perlu diurus. Deva. Sudah dari subuh dia pergi. Kudengar kelompok yang menginginkan berdirinya negara baru akan melakukan protes dan ancaman ke Kantor Gubernur hari ini. Sejak kejadian hari itu dia menjadi agak pendiam dan menjaga jarak dari kami. Entahlah. Padahal kami tinggal satu asrama.

Aku menarik napas panjang.

Beberapa saat menunggu, akhirnya bus merapat ke halte. Aku segera masuk. Mengambil tempat duduk yang nyaman sambil membaca buku.

Beberapa saat berlalu, buku tak lagi tampak menarik begitu aku menatap keluar lewat jendela. Beberapa pamflet bertulis kata "merdeka" tepasang di pohon-pohon pinggir jalan.

Aku menghela napas panjang. Urusan ini tak akan pernah sederhana.

Dua menit sebelum aku sampai di halte dekat kampus, sebuah pesan masuk. Dari Umair.

Segera menyusul ke lokasi, mereka mengajukan jadwal.

Aku tertegun sejenak.

Aku dan beberapa kawanku akan mengamati sepanjang unjuk rasa berlangsung. Bukannya apa, pewarta di sini sudah tidak sepenuhnya bisa dipercaya. Apalagi semenjak adanya isu referendum ini. Banyak berita palsu yang sengaja disebar untuk menggiring opini. Ditambah lagi tugas kuliah yang mengharuskan semua mahasiswa membuat laporan tentang peristiwa ini. Entahlah, aku juga tak paham alur berpikir para dosen di sini. Tugasku dan Umair cukup berisiko, terjun langsung ke lapangan.

Baiklah.

Ketika bus sempurna berhenti di halte kampus, menurunkan beberapa penumpang, aku melihat sosok yang kukenal. Awalnya aku hendak langsung ke lokasi. Tapi urung. Demi melihat bayangan itu, aku bergegas turun.

"Deva!" Aku berteriak begitu telah turun.

Deva menoleh sekilas. Tapi langsung mempercepat langkahnya.

"Tunggu!" Aku berteriak lagi. Berlari mengejar.

"Ada yang mau aku bicarakan."

"Bicara apa lagi? Soal protes ke Kantor Gubernur?" Wajah Deva tampak tak senang. Dia selalu saja sensitif setiap kali membahas itu.

"Ya." Aku menjawab. "Kau mau kesana, kan?" Tanyaku retoris.

"Bukan urusanmu. Dan asal kau tahu, kami punya hak melakukannya!"

"Kalau bicara tentang hak. Semua orang punya hak. Kau punya hak untuk protes. Gubernur punya hak untuk tidak diganggu ketenangannya. Aku punya hak untuk bicara. Semua orang punya. Tapi masalahnya bukan itu, Dev. Hak bisa kita peroleh, jika kewajiban kita lakukan-"

"Tapi pemerintah tidak melaksanakan kewajibannya terkait hak-hak kita!" Deva memotong.

"Lantas itu menjadi alasan kalian untuk membuat negara semakin terpecah?"

"Tutup mulut kau! Kami tidak memecah belah negara. Kami hanya menuntut hak kami."

"Hak apa? Hak merdeka dan membentuk negara baru? Itu hanya bualan basi. Ada yang sengaja membuat kita terpecah belah. Kesatuan negara lebih berhak untuk kita jaga." Aku menatap Deva.

Deva terdiam.

"Pikirkan benar-benar, Dev! Sebelum semuanya terlambat." Aku menepuk bahunya. Lantas berlari menuju pangkalan ojek. Terlalu lama jika aku harus menunggu bus. Meninggalkan Deva yang masih termenung diam.

***

Bapak tukang ojek menurunkanku lima puluh meter dari kumpulan masa yang sudah berada di depan Kantor Gubernur. Tepat di depan pintu masuk taman kota.

Setelah membayar, aku berlarian masuk taman. Tempat kami berkumpul.

"Ahmar! Akhirnya kau datang juga. Yeah, walaupun terlambat." Reza mengejekku, tertawa.

"Maaf, tadi ada urusan kecil yang harus kuselesaikan. Bagaimana?" Aku menanyakan kondisi terkini.

Reza menarik napas dalam-dalam, "Kita tidak bisa mencegah mereka, Mar. Mereka terlalu keras."

Yang lain mengangguk-angguk, menyetujui ucapan Reza.

Aku memperhatikan ratusan mahasiswa yang berkumpul di depan Kantor Gubernur. Tampak salah satu dari mereka berorasi, berada diposisi lebih tinggi.  Tangannya teracung-acung ke udara. Diikuti ratusan mahasiswa lainnya. Itu hampir separuh mahasiswa di kampusku.

Puluhan petugas keamanan tampak menjaga gerbang Kantor Gubernur yang sengaja ditutup.

"Umair mana?" Aku seperti ingat sesuatu. Menoleh.

"Dia sudah di sana." Seseorang menunjuk ke Kantor Gubernur.

"Kau jangan ke sana, Mar! Tugas kau telah diubah. Terlalu berisiko jika kau yang ke sana. Mengingat betapa kerasnya kau menolak aksi mereka beberapa hari terakhir. Kau cukup di sini. Sudah ada yang menggantikan tugas kau," kata Reza menjelaskan.

Aku menggeleng. Tidak, apapun yang terjadi, aku harus ke sana. Aku segera berdiri. Berjalan cepat keluar taman.

"Berbahaya, Mar!"

Kuacuhkan teriakan Reza dan tatapan mencegah teman-teman yang lain. Aku tidak peduli seberapa bahaya disana. Aku gila? Mungkin iya.

Aku berlari semakin cepat. Melintas di trotoar. Melanjutkan berjalan cepat.

Tiba tepat di barisan paling belakang para mahasiswa, aku berhenti sejenak.

Kukatupkan rahang. Aku mencoba menyelinap di antara mereka.

Suasana kacau. Mahasiswa mulai melempar benda-benda ke arah gerbang Kantor Gubernur karena merasa tidak ditanggapi. Suara-suara teriakan memekakkan telinga. Mereka menyanyikan yel-yel. Kudengar itu lagu kebangsaan untuk negara baru. Aku menghembuskan napas panjang. Virus 'negara baru' telah menyebar begitu parah.

Aku menunduk agar tidak  ada yang mengenaliku. Aku mencari Umair.

Suasana tampak tambah kacau. Beberapa mahasiswa yang berada di baris depan mulai menyerang petugas keamanan. Aku terus berjalan.

"Ada apa kau kesini? Mau bicara baik-baik dengan Gubernur?"

Demi mendengar suara itu aku mendongak. Deva. Dia berdiri di depanku.

"Woi, teman-teman, ada penyusup!" Deva tiba-tiba berteriak.

Aku menggeleng perlahan. Apa yang ada di pikiran Deva?

Aku hanya bisa mematung menatap belasan pasang mata menatapku. Sebagian diantara mereka teman sekelasku.

Aku menelan ludah. Jantungku berdegup kencang. Diam disini sama saja mencari mati.

"Habisi saja dia!"

Entah itu suara siapa, yang jelas ia berhasil membuat pukulan pertama mendarat di punggungku.

Aku tersuruk dua langkah kedepan.

Belum sempat aku berdiri sempurna, tinju kedua menyusul. Tak menunggu lama, pukulan dan tendangan lain menyerangku. Aku bertahan mati-matian. Menangkis sebisaku.

Hanya dalam hitungan menit aku menggelepar kalah. Terang saja, satu melawan belasan. Tubuhku lebam di sana-sini.

Sebelum tubuhku terlanjur remuk, seseorang masuk dalam arena pertempuran. Umair.

Petugas keamanan menyemprotkan gas air mata. Masa sudah benar-benar tidak bisa dikondisiskan. Mereka semakin brutal. Beberapa pukulan juga menimpa Umair.

Sampai akhirnya, tinju keras mengenai kepalanya. Umair terpental jatuh tak sadarkan diri.

"Umair!!" Aku berteriak kencang.

Mendengar teriakanku, gerakan memukul mereka terhenti.

Deva menatap Umair terkejut. Wajahnya sedikit pias.

"Apa yang kalian inginkan disini? Menuntut hak atau justru merampas hak?" Kataku menggebu.

"Kalian tahu? Referendum hanya omong kosong orang asing untuk memecah belah kita!"

Ditengah gas air mata, tatapan menyesal beberapa orang, keributan mahasiswa di depan, aku dengan payah menyeret tubuh Umair, membawanya ke pinggir.

Deva menatap kami dengan tatapan yang tak dapat kuartikan.

 

 

Kota Ukir, 2020

@fatinhumyr



Kembali Ke Index Berita


Hubungi Kami:



email : maahidku@gmail.com

Telepon : 0291 436437


Temukan Kami